Tuesday, June 9, 2009

Filsafat Manusia.

1. Tinjauan kefilsafatan tentang manusia

Menurut tinjauan kefilsafatan manusia adalah makhluk yang bertanya, dalam hal ini manusia sebagai makhluk yang mempertanyakan dirinya sendiri dan keberadaannya. Dalam hal ini manusia mulai tahu keberadaannya dan menyadari bahwa dirinya adalah penanya.

Apabila ditinjau dari segi dayanya, maka jelaslah manusia memiliki dua macam daya. Disatu pihak manusia memiliki daya untuk mengenal dunia rohani, yang nous, suatu daya intuitip, yang kerena kerjasama dengan akal menjadikan manusia dapat memikirkan serta membicarakan hal-hal yang rohani. Di lain pihak manusia memiliki daya pengamatan (aisthesis), yang karena pengamatan yang langsung yang disertai dengan daya penggambaran atau penggagasan menjadikan manusia memiliki pengetahuan yang berdasarkan pengamatan.

Manusia terdiri dari jiwa dan tubuh, yang keduanya dapat berdiri sendiri-sendiri. Jiwa berada dalam tubuh seperti terkurung dalam penjara dan hanya kematian yang dapat melepaskan belenggu tersebut.

Tujuan kefilsafatan manusia diatas menitik beratkan pada dayanya, manusia sebagai idea, yaitu sebagai manusia yang tak bertubuh. Telah ada kekal sejak logos, jiwa dibedakan antara jiwa sebagai kekuatan hidup (psuke) dan jiwa sebagai kekuatan akali (nous, dianoia, psuke logike). Jiwa sebagai kekuatan hidup berada dalam darah dan tidak dapat binasa. Jiwa yang besifat akali ayau nous lebih tinggi tingkatannya karena merupakan jiwa yang bersifat ilahi. Sebelum manusia dilahirkan jiwa ini sudah ada jiwa ini tidak dapat binasa. Ia memasuki tubuh dari luar. Di dalam tubuh jiwa itu dipenjara. Karena itu hidup di dunia ini adalah kejahatan. Kematian merupakan wujud suatu kebebasan, dimana manusia orang dibangkitkan kepada hidup yang sejati dan kepada kebebasan.

Berdasarkan pandangan di atas tujuan hidup manusia ialah menjadi sama dengan ALLAH. Adapun yang menuju kepada ALLAH itu melalui pengetahuan. Supaya orang dapat mendapat pengetahuan diperlukan logos, sebab logos merupakan sumber segala pengetahuan. Agar manusia dapat menerima daya kerja logos ia harus menjauhkan diri dari dunia dan dari segala nafsu.

Kebajikan diungkapkan dalam tiga tingkatan, yaitu :

A) Aphateia (tiada perasaan) di man orang melepaskan diri dari segala hawa nafsu dan dari segala yang bersifat badani

B) Kebijaksanaan, adalah suatu karunia Ilahi, yang diarahkan kepada yang susila atau kesalahan

C) Ekstase, yaitu menenggelamkan diri kedalam yang ilahi.

Pemikiran Philo besar sekali pengaruhnya terhadap pemikiran filsafat berikutnya terutama yang menyangkut masalah manusia. Hal ini dapat dilihat dalam pemikiran Plotinos yang menegaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah dipersatukannya kembali manusia dengan “yang Ilahi“. Menurut Plotinos jalan kembali manusia terdiri dari tiga tahap, yaitu melakukan kebajikan umum, berfilsafat dan mistik. Di dalam diri Plotinus pemikiran Yunani sampai kepada ajaran tentang mistik.

Philo maupun Plotinus telah meletakkan dasar-dasar pemikiran tentang manusia secara kefilsafatan yang berdampingan daengan pandangan agama (theology).

2. Manusia Dalam Multi Dimensi

Menurut Fichte manusia secara prinsipil adalah makhluk yang bersifat moral yang di dalamnya mengandung suatu usaha. Di sinilah manusia perlu menerima dunia di luar dirinya. Sikap seperti ini dapat menjadikan manusia menyadari dirinya sendiri dan usaha untuk membatasi dirinya sendiri dari masyarakat luas.

Hakikat pemikiran para filsuf tentang manusia pada umumnya mengacau kepada hakikat manusia itu sendiri. Menurut Kierkegaard, pertama-tama yang penting bagi manusia adalah keadaannya sendiri atau eksistensinya sendiri. Akan tetapi eksistensi manusia bukanlah suatu “ada” melainkan suatu “menjadi”, yang mengandung di dalamnya suatu perpindahan, yaitu perpindahan dari “kemungkinan” ke “kenyataan”. Eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan.

Demikianlah jelas, bahwa bereksistensi berarti : Berani mengambil keputusan yang menentukan hidup. Tiap eksistensi memiliki cirinya sendiri yang khas. Kierkegaard membedakan adanya 3 bentuk eksistensi, yaitu : bentuk esteti, bentuk etis dan bentuk religius.

3. Beberapa Paham Tentang Manusia

Pandangan tentang manusia di dalam pemikiran filsafat berkisar pada empat kelompok besar, yaitu :

a. Materialisme

b. Idealisme

c. Rasionalisme

d. Irrasionalisme

Materialisme telah diawali sejak filsafat Yunani yakni sejak munculnya filsuf alam Yunani, kemudian kaum Stoa dan Epikurisme. Paham ini mulai memuncak pada abad ke-19 di Eropa. Materialisme ekstrim memandang bahwa manusia terdiri dari materi belaka.

Seorang tokoh filsafat alam (Anaximandros) memberikan pandangan tentang manusia. Anaximandros mengatakan tidak mungkin manusia pertama timbul dari air dalam rupa anak bayi. Anaximandros beranggapan bahwa manusia-manusia pertama tubuh di dalam badan seekor ikan, kemudian bilamana manusia-manusia pertama mampu memelihara hidupnya sendiri, mereka dilemparkan di atas daratan. Ia mendasari anggapannya atas observasi (walaupun tidak tepat) pada seekor ikan hiu (gaelus levis) di laut Yunani.

Pandangan Lemettrie (1709-1751) sebagai pelopor materialisme menyebutkan bahwa manusia tidak lain adalah binatang, binatang tak berjiwa, material belaka, jadi manusia pun material belaka. Kesimpulannya : bahan bergerak sendiri, adapun yang disebut orang sebagai pikiran itupun merupakan sifat material, terutama kerja atau tindakan otak. Dalam gerak-geriknya manusia itu sungguh-sungguh seperti mesin. Materialisme ini dalam antropologia disebut materialisme ekstrim, karena aliran ini mengingkari kerohanian dalam bentuk apapun juga, malahan mengingkari adanya pendorong hidup.

Kebalikan dari meterialisme adalah idealisme. Dalam pandangan ini semuanya membedakan manusia dari binatang ; bukanlah manusia itu material belaka. Meskipun diakui juga, bahwa manusia ada samanya juga dengan binatang jadi manusia pun mempunyai kebinatangan tetapi dalam pada itu adalah bedanya yang mengkhususkan dia, yang sama sekali melainkan dia dari binatang. Kelainan ini bukanlah perbedaan tingkatan saja, melainkan mengenai jenisnya istimewa: kemanusiaannya.

Dalam idealisme terdapat beberapa corak, yaitu : idealisme etis, idealisme estetik ; dan idealisme hegel.

Adapun paham rasionalisme dan irrasionalisme bukanlah paham yang saling bertentangan seperti paham materalisme dan idealisme. Pelopor rasionalisme adalah Rene Descartes yang menyatakan bahwa manusia terdiri dari jasmaninya dengan keluasannya (extensio) serta budidan kesadarannya. Sedangkan yang dimaksud dengan pandangan manusia yang irrasionalistis ialah pandangan-pandangan :

a. Yang mengingkari adanya rasio;

b. Yang kurang menggunakan rasio walaupun tidak mengingkarinya

c. Terutama pandangan yang mencoba mendekati manusia dari lain pihak serta, kalau dapat dari keseluruhan pribadinya.

Teranglah bahwa penggolongan filsafat manusia dalam rasionalisme-irrasionalisme bukanlah penggolongannya yang lain sekali dari penggolongan : idealisme-materialisme : ini hanya pandangan dari sudut lain. Dengan demikian semua aliran materialisme harus dimasukkan kedalam aliran irrasionalisme.




read more “Filsafat Manusia.”

KONSEP MANUSIA MENURUT MARX

MANUSIA

Manusia adalah suatu makhluk yang bertanya. Bahkan, ia mempertanyakan dirinya sendiri, keberadaanya, dan dunia seluruhnya. Binatang tidak mampu berbuat demikian dan itulah salah satu alasan mengapa manusia menjulang tinggi diatas binatang.

Manusia yang bertanya, tahu tentang keberadaannya dan ia menyadari juga dirinya sebagai penanya. Jadi, ia mencari dan dalam pencariannya ia mengandaikan bahwa ada sesuatu yang bisa ditemukan, yaitu kemungkinan-kemungkinannya.


1. Kesalahpahaman terhadap Konsep-konsep Marx

Banyaknya para ilmuan social dan filosof yang disegani, menyalahpahami dan mendistornasikan teori Karl Marx, bahwa diantara kesalahpahaman terhadap konsep Marx yaitu Marx dianggap percaya bahwa motif psikologis manusia yang tertinggi adalah keinginannya untuk memperoleh dan bersenang-senang dengan uang dan bahwa upaya untuk memperoleh keuntungan maksimal merupakan pendorong utama dalam kehidupan pribadinya dan dalam kehidupan manusia umumnya.

Disisi lain juga kritik Marx terhadap aqidah agama dianggap identik dengan penolakan atau penafkahan terhadap semua nilai-nilai spiritual. Berjuta-juta orang yang berpandangan minor terhadap Marx, sebenarnya mereka adalah yang menyerah terhadap berokrasi negara yang sangat kuat, penduduk yang terkekang kebebasannya, sehingga menjadi berjuta-juta robot dan manusia otomat yang seragam, yang dikendalikan oleh segelintir elit pemimpin yang secara ekonomi mereka lebih baik.

Secara jelas sebagai bantahan dari anggapan minor terhadap teori Marx, mengungkapkan bahwa teori Marx tidak mengasumsikan bahwa teori Marx tidak mengasumsikan bahwa motif utama manusia adalah mencari materi tetapi lebih penting dan jauh dari sekedar itu adalah untuk membebaskan manusia dari tekanan kebutuhan ekonomi. Supaya manusia dapat sepenuhnya menjadi manusia dari dirinya sendiri. Emansipasi manusia sebagai seorang individu yang utuh menyeluruh, mengentaskan alienasi, restorasi kemampuan manusia untuk menghubungkan dirinya secara utuh dengan sesama manusia dan alam sekitarnya yang penuh perbedaan dan interaksi secara murni dan bertanggung jawab.

2. Materialisme Histori Marx

Marx menentang materialisme mekanis dan borjuis, yakni materialisme abstrak dalam sains alam yang mengabaikan sejarah dan prosesnya. Dan Marx tidak pernah menggunakan istilah materialisme histori atau materialisme dialektis. Dia memakai istilahnya sendiri, yakni metode dialektika. Dia mengacu pada kondisi-kondisi fundamental eksistensi manusia.

Seiring dengan perjalanan waktu, kini menjadi jelas mengapa ide yang popular mengenai sifat materialisme historis itu keliru. Pandangan populer ini mengasumsikan bahwa dalam pandangan Marx, motif psikologis manusia yang paling kuat adalah meraih uang dan mendapatkan kesenangan material yang lebih banyak. Jika motif ini merupakan kekuatan utama dalam diri manusia, maka begitulah materialisme histories ditafsirkan. Kunci untuk memahami sejarah adalah nafsu manusia terhadap materi. Makanya kunci untuk menjelaskan sejarah adalah perut manusia dan kerakusannya terhadap kepuasan materi.

Marx mempelajari manusia dan sejarah berangkat dari manusia nyata dan kondisi-kondisi ekonomi dan sosial tempat dia hidup, dan bukan berangkat dari ide-idenya. Marx jauh dari materialisme borjuis sebagaimana dia jauh dari idealisme Hegel. Maka, filsafat Marx adalah bukan idealisme maupun materialisme tetapi sintesis antara humanisme dan naturalisme.

Sangatlah penting untuk memahami ide mendasar Marx: manusia membuat sejarahnya sendiri, manusia adalah pencipta itu sendiri. Sebagaimana ditulis Marx dalam Capital, “Dan sejarah tidak akan mudah dibentuk karena kata Vico, dalam hal ini sejarah manusia berbeda dari sejarah alam; kita telah membuat sejarah manusia, bukan sejarah alam.” Manusia lahir untuk diri sendiri dalam proses sejarah. Factor yang esensial dalam proses penciptaan diri ras manusia ini adalah hubungan manusia dengan alam. Dalam proses evolusi, manusia mentransformasikan hubungannya dengan alam, dan kemudian mentransformasikan dirinya sendiri.

Marx lebih lanjut dalam capital membicarakan tentang ketergantungan manusia dengan alam, organisme-organisme produksi social kuno. Dibanding masyarakat borjuis, maka sangat sederhana dan transparan. Tetapi organisme-organisme tersebut ditemukan juga dalam perkembangan individual manusia yang belum dewasa, sehingga menyatukannya dengan sesama manusia dalam komunitas suku primitif sekalipun.

3. Masalah Kesadaran, Struktur Sosial dan Pemanfaatan Kekuatan

Kesadaran manusia yang menentukan keadaannya, tetapi sebaliknya keadaan sosialnyalah yang menentukan kesadarannya. Tetapi didalam pernyataan yang lain, bahwa Marx, seperti Spinoza dan kemudian Freud percaya bahwa sebagian besar dari apa yang dipikirkan manusia secara sadar adalah kesadaran “palsu”, yaitu ideologi dan rasionalisasi. Bahwa dorongan utama perilaku manusia yang sebenarnya tidaklah disadari. Menurut Freud, dorongan tersebut berakar pada dorongan libidinal manusia. Sedangkan menurut Marx, dorongan itu berakar pada keseluruhan organisasi manusia yang mengarahkan kesadarannya menuju titik tertentu dan menghalanginya dari kesadaran akan fakta dan pengalaman tertentu.

Juga perlu dicatat bahwa bagi Marx sains dan semua kekuasaan itu sendiri yang inheren didalam manusia adalah bagian dari kekuatan-kekuatan produksi yang berinteraksi dengan kekuatan alam. Bahkan, sejauh berkenaan dengan pengaruh ide-ide ini pada evolusi manusia.

Marx melihat bahwa kekuatan politik tidak dapat menghasilkan sesuatu jika tidak ada persiapan yang harus melalui proses sosial dan politik. “Kekuatan,” kata Marx, “adalah seorang bidan yang membantu setiap masyarakat yang hamil tua untuk melahirkan masyarakat baru.”

4. Watak Manusia

Marx tidak mempercayai pandangan yang mengatakan bahwa watak manusia itu tidak ada; bahwa manusia dilahirkan seperti sebuah kertas kosong dimana kebudayaan menuliskan teks diatasnya. Berkebalikan dengan relativisme sosiologis, Marx melontarkan ide bahwa manusia qua manusia adalah entitas yang dapat dikenali dan diketahui; bahwa manusia dapat didefiisikan sebagai manusia, bukan hanya secara biologis, anatomis dan fisik tetapi juga psikologis.

Ketika beradu argumantasi dengan Bentham, Marx mengatakan, “untuk mangetahui apa yang bermanfaat bagi anjing, kita harus mempelajari watak anjing, tetapi watak anjing itu sendiri tidak disimpulkan dari azas manfaat. Sama juga dengan manusia, orang yang akan mengkritisi semua perilaku, gerakan, hubungan manusia dan seterusnya dengan azas manfaat. Pertama-tama harus mempelajari watak manusia secara umum dan kemudian mempelajari watak manusia yang telah dimodifikasi oleh setiap kurun sejarah.” Konsep tentang watak manusia ini, bagi Marx juga bagi Hegel, bukan sebuah abstraksi. Tetapi esensi manusia, sebagaimana Marx katakan, “esensi manusia bukanlah abstraksi yang inheren dalam setiap individu yang terpisah.”

Perbedaan antara watak manusia umum dan ungkapan khusus tentang watak manusia disetiap kebudayaan, Marx membedakan 2 jenis dorongan dan hasrat manusia. Pertama, dorongan yang konstan atau tetap seperti lapar dan nafsu seksual, yang merupakan bagian integral dalam watak manusia dan yang dapat diubah hanya dalam hal bentuk dan arahnya diberbagai kebudayaan. Kedua, dorongan yang relatif, yang bukan merupakan bagian integral dalam watak manusia tetapi “yang berasal dari struktur sosial dan kondisi-kondisi produksi dan komunikasi tertentu”. Marx memberikan contoh kebutuhan yang ditimbulkan oleh struktur masyarakat yang capital yaitu kebutuhan terhadap uang. ”Oleh karenanya adalah kebutuhan nyata yang diciptakan oleh ekonomi modern dan hanyalah kebutuhan yang diciptakan…Ini ditunjukkan secara subjektif dan parsial oleh fakta bahwa ekspansi produksi dan ekspansi kebutuhan menjadi sebuah ketundukan yang pintar dan selalu menghitung nafsu yang tidak manusiawi, bejat, tidak alamiah dan imajiner”.

Bagi Spinoza, Goethe, Hegel, serta Marx manusia akan hidup hanya jika ia produktif, menguasai dunia di luar dirinya dengan tindakan untuk mengekspresikan kekuasaan manusiawinya yang khusus dan menguasai dunia dengan kekuasaannya ini. Manusia yang tidak produktif adalah manusia yang reseptif dan pasif, dia tidak ada dan mati. Dalam proses produksi ini, manusia mewujudkan esensinya sendiri, dia kembali kepada esensinya, dalam bahasa teologis dia kembali kepada tuhan.

Dan inilah sesungguhnya hidup yang menciptakan hidup dan kehidupan. Dalamkehidupan seperti ini, aktifitas menempati watak spesiesnya dan aktifitas yang sangat besar adalah watak manusia.

Konsep Marx tentang perwujudan diri manusia dapat sepenuhnya dipahami hanya dalam kaitannya dengan konsepnya tentang kerja. Kerja, erat kaitannya dengan buruh. Menurut Marx buruh yaitu, sebuah aktivitas, bukan sebuah komoditas. Marx sendiri menyebut fungsi manusia sebagai “aktivitas diri,” bukan buruh. Dia juga menganggap penghapusan buruh adalah sebagai tujuan dari sosialisme. Marx menggunakan istilah “emansipasi buruh” dalam membedakan antara buruh yang bebas dan buruh yang teralienasi.

5. Alienasi

Konsep Marx tentang sosialisme adalah pembebasan dari alienasi, mengembalikan manusia menjadi dirinya sendiri atau perwujudan diri. Marx mengatakan bahwa manusia bisa berubah menjadi barang ciptaannya sendiri sebagai hiasan hidupnya. Ketika menganggap dirinya sebagai manusia yang mencipta, justru hanya berhubungan dengan dirinya ketika dia menjadi musyrik. Marx mengungkapkan, kematian dan kekosongan berhala diungkapkan dalam Kitab Perjanjian Lama. “Mata yang mereka miliki tidak melihat, telinga yang mereka miliki tidak mendengar,” dan seterusnya. Semakin manusia memindahkan kekuasaannya pada berhala, semakin dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri dan semakin ia tergantung pada berhala, semakin sedikit bagian dari dirinya yang asli yang dapat diperolehnya. Berhala dapat berupa patung, negara, gereja, orang atau kepemilikan.

Manusia yang telah tunduk pada kebutuhan-kebutuhannya yang teralienasi adalah “makhluk yang secara mental dan fisik terdehumanisasi…komoditas yang sadar diri dan bertindak sendiri.” Marx berpendapat, “Semakin Anda kurang mengada, semakin Anda kurang mengekspresikan hidup Anda, semakin Anda banyak memiliki, semakin besar alienasi yang Anda alami dan semakin banyak tabungan Anda sebagai makhluk yang teralienasi.”

6. Konsep Sosialisme Marx

Menurut Marx, sosialisme bukanlah sebuah masyarakat dimana individu tersubordinasikan oleh negara, mesin dan birokrasi. Sekalipun negara sebagai pemilik modal yang abstrak adalah majikan, sekalipun seluruh modal sosial dikuasai oleh satu pemilik modal atau satu perusahaan kapitalis, yang demikian ini bukanlah sosialisme. Sosialisme bagi Marx, sebagaimana kata Paul Tillich, “sebuah gerakan resistensi yang menentang penghancuran cinta yang terdapat dalam realitas sosial.”

Marx menentang keras agama karena agama teralienasi dan tidak memenuhi kebutuhan manusia yang sebenarnya. Sehingga Marx menuliskan mottonya, Not those are godless who have contempt for the gods of the masses but those who attribute the opinions of the masses to the gods (bukan orang tidak bertuhan yang jijik dengan tuhan masyarakat tetapi orang yang menjadikan pandangan masyarakat sebagai tuhan).

Sosialisme adalah resolusi definitif atas antagonisme antara manusia dan alam, dan antara sesame manusia. Sosialisme menjadi solusi atas konflik antara eksistensi dan esensi, antara objektifikasi dan penegasan diri, antara kebebasan dan keterikatan, antara individu dan spesies.




read more “KONSEP MANUSIA MENURUT MARX”

Pendidikan Islam Pasca Kemerdekaan

A. Pendidikan Islam Pasca Kemerdekaan (Reformasi)

Program peningkatan mutu pendidikan yang ditargetkan oleh pemerintah ordebaru akan mulai berlangsung pada pelita VII terpaksa gagal, krisis ekonomi yang berlangsung sejak juli 1997 telah mengubah konstelasi politik maupun ekonomi nasional.[1] Secara politik ordebaru berakhir dan digantikan oleh rezim yang menamakan diri sebagai “reformasi pembangunan” meskipun demikian sebagian besar roh orde reformasi masih tetap berasal dari rezim orde baru. Tetapi ada sedikit perubahan berupa adanya kebebasan pers dan multipartai.

Dalam bidang pendidikan, kabinet reformasi hanya melanjutkan program wajib beljar 9tahun yang sudah dimulai sejak tahun 1994 serta melakukan perbaikan sistem pendidikan agar lebih demokratis. Tugas jangka pendek kabinet reformasi yang paling pokok adalah bagaimana menjaga agar tingkat partisipasi pendidikan masyarakat tetap tinggi dan tidak banyak yang mengalami putus sekolah.

Dalam bidang ekonomi, terjadi krisis yang berkepanjangan. Beban pemerintah menjadi sangat berat. Sehingga terpaks harus memangkas program termasuk didalamnya program penyetaraan guru- guru dan mentolerir terjadinya kemunduran penyelesaian program wajib belajar 9tahun. Sekolah sendiri mengalami masalah berat sehubungan dengan naiknya biaya operasional

B. Keterkaitan Reformasi Politik dengan Pendidikan Islam di Indonesia

Reformasi merupakan istilah yang amat populer pada masa krisis dan menjadi kata kunci dalam membenahi seluruh tatanan hidup berbangsa dan bernegara di tanah air tercinta ini, termasuk reformasi dibidang pendidikan.[2] Secara konstitusional ditetapkan bahwa negara Indonesia berdasarkan pada agama.[3] Artinya, bahwa negara Indonesia melindungi dan menghargai kehidupan beragama dari seluruh warga negara Indonesia.[4]

Bangsa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat global akan memasuki abad yang penuh dengan persaingan bebas. Banyaknya para ilmuan yang bersepakat bahwa pada tahun 2003 akan terjadi pasar bebas. Oleh kerana itulah kecenderungan masa kini akan ditandai oleh ledakan pengetahuan dan ledakan informasi. Reformasi pendidikan merupakan hukum alam yang akan mencari jalannya sendiri, khususnya memasuki masa millennium ketiga yang mengglobal dan sangat ketat dengan persaingan.[5] Dengan adanya sumber daya manusia yang unggul dalam penguasaan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, maka bangsa Indonesia akan dapat mengerakkan sektor- sektor industri secara efisien dan produktif serta mampu bersaing di pasar dunia.[6].

Dalam konteks keindonesiaan, sebagai salah satu desakan arus reformasi, perubahan paradikma dari sentralisasi menjadi desentralisasi memberikan tantangan tersendiri bagi aspek kehidupan, tak terkecuali dunia kependidikan.[7] Pada era globalisasi seperti ini, pendidikan harus melakukan reformasi dan inovasi dalam proses belajar mengajar secara terus menerus. Oleh karena itu, dalam era globalisasi saat ini sektor pendidikan perlu difungsikan sebagai ujung tombak untuk mempersiapkan sumber daya manusia dan sumber daya bangsa agar memiliki unggulan kompetetif dalam berbangsa dan dan bernegara ditengah-tengah kehidupan dunia yang semakin global. Maka keterkaitan antara proses pendidikan dan kehidupan politik dalam arti bahwa pendidikan tidak terlepas dari politik dan politik itu sendiri adalah pendidikan. Pendidikan adalah metode yang paling fundamental di dalam kemajuan sosial dan reformasi.[8]

C. Upaya dan Langkah Memperbaharui dan Memperbaiki

Pendidikan Islam menuju pendidikan Islam yang reformis. Para reformis modern mengklaim bahwa Islam adalah agama rasional. Sebuah klaim yang dimaksudkan untuk membuktikan bahwa Islam itu terbuka terhadap ide-ide kreatifitas dan kemajuan baru. Ia datang sebagai hasil dari tekanan untuk menyakinkan kebudayaan manusia modern yang meragukan kemampuan Islam sebagai pembimbing kehidupan modern. Karena itu, mereka menulis karya-karya yang menempatkan rasionalitas pada posisi penting dalam pembahasan-pembahasan teologis.[9]

Untuk menghapuskan ciri dan akses negatif proses dan hasil pendidikan selama masa orde baru, pemerintah saat ini perlu dengan sadar mengambil berbagai kebijakan reformasi secara substansial. Kebijakan itu perlu memperhatikan berbagai persoalan yang sedang dan akan dihadapi oleh bangsa ini. Oleh karena itu, perlu ditempuh berbagai langkah baik dalam bidang manajemen, perencanaan sampai pada praksis pendidikan ditingkat mikro. Langkah-langkah reformasi pendidikan untuk meyongsong millennium III yaitu sebagai berikut :[10]

1. Pendidikan nasional hendaknya memiliki visi yang berorientasi pada demokrasi bangsa sehingga memungkinkan terjadinya proses pemberdayaan seluruh komponen masyarakat secara demokratis.

2. Pendidikan nasional hendaknya memiliki misi agar tercapai partisipasi masyarakat secara menyeluruh sehingga secara mayoritas seluruh komponen bangsa yang ada dalam masyarakat terdidik.

3. Substansi pendidikan dasar hendaknya mengacu pada pengembangan potensi dan kreatifitas siswa dalam totalitasnya. Oleh karena itu, tolak ukur keberhasilan pendidikan dasar tidak semata-mata hanya mengacu pada NEM (Nilai Ebtanas Murni). Persoalan-persoalan yang terkait dengan paradigma baru mengenai keberhasilan seseorang perlu mendapatkan perhatian secara implementatif.

4. Substansi pendidikan nasional dijenjang pendidikan menengah dan pendidikan perguruan tinggi hendakna membuka kemungkinan untuk terjadinya pengembangan individu secara vertical dan horizontal.

5. Pendidikan di Perguruan Tinggi hendaknya jangan semata-mata hanya berorientasi pada penyiapan tenaga kerja.

6. Pengembangan akademik di Perguruan Tinggi perlu adanya fleksibilitas yang tinggi agar tercipta kondisi persaingan akademis yang sehat.

7. Pendidikan nasional hendaknya mendapat proporsi alokasi dana yang cukup memadai agar dapat mengembangkan program-program yang berorientasi pada peningkatan mutu, relevansi, efisiensi dan pemerataan.

Reformasi pendidikan memasuki millennium III ini terasa sangat mendasar dan perlu ada realisasi nyata. Dengan demikian fondasi dan pilar-pilar yang dibangun akan mampu berdiri kokoh menghadapi terpaan dan gelombang sebesar apapun. Pendidikan islam juga harus mampu mengantisipasi masa depan umat Islam yang akan berhadapan dengan berbagai ideologi besar dan tantangan-tantangan lain.
Dengan langkah-langkah reformasi pendidikan diharapkan pendidikan di Indonesia berjalan lancar, sehingga Pendidikan Islam akan lebih baik dari sebelumnya atau menuju pendidikan Islam yang reformis.

D. Nilai dan Makna Perubahan Pendidikan Islam Masa Reformasi

Keteladanan mengenai kejujuran, keadilan, kerja keras, penghargaan atas hak-hak asasi manusia merupakan sosialisasi dan pendidikan nilai yang luar biasa pengaruhnya. Keseimbangan pendidikan nilai diletakkan dalam kaitan penyampaian kebebasan. Pendidikan sebagai upaya humanisasi seringkali terbentur dengan sistem pendidikan nasional yang diatur oleh Negara. Menurut UU no 2 tahun 1989, pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembnagkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.[11] UU Sisdiknas ini lahir dalam konteks politik reformasi dan berada pada fase transisi demokrasi.[12] Harapan lainnya, bahwa UU Sisdiknas ini tidak sekedar mengatur tentang hak mendapat agama bagi peserta didik, melainkan juga berkaitan dengan bagaimana para pemilik modal bersaing untuk investasi bisnis dalam ranah pendidikan. Melalui pendidikan dilakukan upaya penguatan kualitas, pembentukan karakter generasi bangsa, peningkatan kesejahteraan social, dan melahirkan warga Negara yang demokratis, inklusif, toleran dan multicultural. Dengan adanya perubahan dalam pendidikan Islam masa reformasi diharapkan sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya bangsa Indonesia agar memiliki unggulan kompetetif dalam berbangsa dan bernegara ditengah-tengah dunia yang semakin berkembang dengan pesat.
Pada masa Orde Baru yang otoriter telah melahirkan system pendidikan yang tidak mampu melakukan pemberdayaan masyarakat secara efektif dan terjadi keterkekangan, maka pada masa reformasi ini muncul kebebasan penuh. Dengan munculnya kebebasan mutlak diharapkan pendidikan khususnya Pendidikan Islam mampu menjawab semua tantangan dunia modernisasi saat ini dan mencetak generasi bangsa yang unggul sesuai dengan cita-cita pendidikan Islam.


BAB III

SIMPULAN

Pendidikan merupakan salah satu hal yang penting dalam kehidupan manusia untuk menjalani kehidupan sosialnya. Maju mundur dan baik buruknya suatu bangsa akan ditentukan oleh keadaan pendidikan yang dijalaninya. Pendidikan Islam telah meerangkul semua prinsip dan tujuan pendidikan dan jika dibandingkan dengan pendidikan pada umumnya, maka beban yang akan dipikul oleh pendidikan Islam amatlah berat.

\Dengan mengungkap paradigma baru pendidikan Islam masa reformasi, kita dapat mengambil hikmahnya pada masa sekarang ini melalui pendidikan. Tujuan pendidikan Islam adalah meninggikan derajat dan martabat manusia atau lebih memanusiakan manusia dan tidak terkekang oleh suatu hegemoni pendidikan atau membebaskan seseorang dari berbagai kungkungan.

Yang harus disadari adalah lemabag pendidikan islam memiliki potensi yang sangat besar bagi jalannya pembangunan di negeri ini terlepas dari berbagai anggapan etnang endidikan yang ada saat ini. Harus dingat bahwa pendidikan isam di Indonesia telah banyak melahirkan putra- putri bangsa yang berkualitas.pendidikan agama sangat diperlukan sekali, olehkarena itu upaya untuk memajukan dan mengembangkan menjadi satu ha yang wajib. Mengingat pendidikan agama merupakan alan enuju pembentukan pribdi yang iman dan bertakwa serta berkualtas ilmu pengetahuan



[1] http://scribd.com/

[2] http://lathifah87.blogspot.com/

[3] Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam hal. 181, Logos Wacana Ilmu : Jakarta

[4] Ibid

[5] http://lathifah87.blogspot.com/

[6] Suwendi, M.Ag, Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam, hal. 185

[7] Ibid 186

[8] http://lathifah87.blogspot.com/

[9] ibid

[10] ibid

[11] http://lathifah87.blogspot.com/

[12] ibid




read more “Pendidikan Islam Pasca Kemerdekaan”

PROBLEMATIKA MASYARAKAT MODEREN

A. Masyarakat Modern

Masyarakat modern terdiri dari dua kata, yaitu masyarakat dan modern. Masyarakat adalah pergaulan hidup manusia (himpunan orang yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu).[1] Sedangkan modern diartikan yang terbaru, secara baru, mutakhir. Jadi masyarakat modern berarti suatu himpunan yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu yang bersifat mutakhir.

Menurut Deliar Noer ada 5 ciri-ciri masyarakat modern sebagai berikut :

  1. Bersifat rasional,
  2. Berpikir untuk masa depan yang lebih jauh,
  3. Menghargai waktu,
  4. Bersikap terbuka,
  5. Berpikir objektf.[2]

Dalam pada itu, Alfin Toffler, sebagai dikemukakan oleh Jalaludin Rahmat, membagi masyarakat ke dalam tiga bagian. Yaitu masyarakat pertanian (Agricultural Society), masyarakat industri (Industrial Society), dan masyarakat infomasi (Informatical Society).

Masyarakat pertanian, ekonominya bertumpu pada tanah / sumber alam. Teknologi yang digunakan adalah teknologi kecil seperti pompa penyemprot hama, racun tikus, dan sebagainya. Informasi yang mereka gunakan adalah media tradisional, dari mulut ke mulut, bersifat lokal, dan informasi terpusat pada salah seorang yang dianggap tokoh. Dari segi kejiwaan, mereka banyak menggunakan kekuatan yang bersifat irrasional, seperti penanganan masalah dengan cara pergi ke dukun.

Selanjutnya masyarakat industri berbeda dengan masyarakat pertanian. Modal dasar berupa peralatan produksi dan mesin-mesin produksi. Teknologi yang digunakan adalah teknologi tinggi. Informasi yang mereka gunakan sudah menggunakan media cetak atau tulisan yang dapat disimpan oleh siapa saja. Secara kejiwaan, mereka adalah manusia yang cerdas, berilmu pengetahuan, menguasai teknologi, dan berpikir untuk hidup secara makmur dalam bidang materi.

Yang ketiga adalah masyarakat informasi, yang paling menentukan dalam masyarakat informasi adalah orang-orang yang paling banyak memiliki informasi. Dari segi teknologi, masarakat informasi menggunakan teknologi elektronika. Penggunaan teknologi elektronika telah mengubah lingkungan informasi dari yang bersifat lokal dan nasional kepada lingkungan yang bersifat internasional, mendunia, dan global. Secara kejiwaan, mereka adalah manusia yang serba ingin tahu, mampu menjelaskan, dan imajinatif.

B. Problematika Masyarakat Modern.

Kemajuan di bidang teknologi pada zaman modern ini telah membawa manusia ke dalam dua sisi, yaitu bisa memberi nilai tambah (positif), tapi pada sisi laian dapat mengurangi (negatif).

Efek positifnya tentu saja akan menigkatkan keragaman budaya melalui penyediaan informasi yang menyeluruh sehingga memberikan orang kesempatan untuk mengembangkan kecakapan-kecakapan baru dan meningkatkan produksi. Sedangkan efek negatifnya kemajuan teknologi akan berbahaya jika berada di tangan orang yang secara mental dan keyakinan agama belum siap. Mereka dapat menyalahgunakan teknologi untuk tujuan-tujuan yang destruktif dan mengkhawatirkan.[3] Misalnya penggunaan teknologi kontrasepsi dapat menyebabkan orang dengan mudah dapat melakukan hubungan seksual tanpa harus takut hamil atau berdosa. Jaringan-jaringan peredaran obat-obat terlarang, tukar menukar informasi, penyaluran data-data film yang berbau pornografi di bidang teknologi komunikasi seperti komputer, faximile, internete, dan sebagainya akan semakin intensif pelaksanaannya.

Hal tersebut di atas adalah gambaran-gambaran masyarakat modern yang obsesi keduniaannya tampak lebih dominan ketimbang spritual. Kemajuan teknologi sains dan segala hal yang bersifat duniawi jarang disertai dengan nilai spiritual.

Menurut Sayyed Hossein Nasr, seorang ilmuwan kenamaan dari Iran, berpandangan bahwa manusia modern dengan kemajuan teknologi dan pengetahuaannya telah tercebur ke dalam lembah pemujaan terhadap pemenuhan materi semata namun tidak mampu menjawab problem kehidupan yang sedang dihadapinya. Kehidupan yang dilandasi kebaikan tidaklah bisa hanya bertumpu pada materi melainkan pada dimensi spiritual.[4] Jika hal tersebut tidak diimbangi akibatnya jiwa pun menjadi kering, dan hampa. Semua itu adalah pengaruh dari sekularisme barat, yang manusia-manusianya mencoba hidup dengan alam yang kasat mata.

Menurut Nashr, manusia barat modern memperlakukan alam seperti pelacur. Mereka menikmati dan mengeksploitasi alam demi kepuasan dirinya tanpa rasa kewajiban dan tanggung jawab apa pun. Nashr melihat, kondisi manusia modern sekarang mengabaikan kebutuhannya yang paling mendasar dan bersifat spiritual, mereka gagal menemukan ketentraman batin, yang berarti tidak ada keseimbangan dalam diri. Hal ini akan semakin parah apabila tekanannya pada kebutuhan materi semakin meningkat sehingga keseimbangan semakin rusak. Oleh karena itu, manusia memerlukan agama untuk mengobati krisis yang dideritanya.[5]

Dari sikap mental yang demikian itu kehadiran iptek telah melahirkan sejumlah problematika masyarakat modern, sebagai berikut :

1. Desintegrasi ilmu pengetahuan

Banyak ilmu yang berjalan sendiri-sendiri tanpa ada tali pengikat dan penunjuk jalan yang menguasai semuanya, sehingga kian jauhnya manusia dari pengetahuan akan kesatuan alam.

2. Kepribadian yang Terpecah

Karena kehidupan manusia modern dipolakan oleh ilmu pengetahuan yang coraknya kering nilai-nilai spiritual dan terkotak-kotak, maka manusianya menjadi pribadi yang terpecah, hilangnya kekayaan rohaniah karena jauhnya dari ajaran agama.

3. Penyalahgunaan Iptek

Berbagai iptek disalahgunakan dengan segala efek negatifnya sebagaimana disebutkan di atas.

4. Pendangkalan Iman

Manusia tidak tersentuh oleh informasi yang diberikan oleh wahyu, bahkan hal itu menjadi bahan tertawaan dan dianggap tidak ilmiah dan kampungan.

5. Pola Hubungan Materialistik

Pola hubungan satu dan lainnya ditentukan oleh seberapa jauh antara satu dan lainnya dapat memberikan keuntungan yang bersifat material.

6. Menghalalkan Segala Cara

Karena dangkalnya iman dan pola hidup materialistik manusia dengan mudah menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan.

7. Stres dan Frustasi

Manusia mengerahkan seluruh pikiran, tenaga dan kemampuannya untuk terus bekerja tanpa mengenal batas dan kepuasan. Sehingga apabila ada hal yang tidak bisa dipecahkan mereka stres dan frustasi.

8. Kehilangan Harga Diri dan Masa Depannya

Mereka menghabiskan masa mudanya dengan memperturutkan hawa nafsu dan menghalalkan segala cara. Namun ada suatu saat tiba waktunya mereka tua segala tenaga, fisik, fasilitas dan kemewahan hidup sudah tidak dapat mereka lakukan, mereka merasa kehilangan harga diri dan masa depannya.

C. Perlunya Pengembangan Akhlak Tasawuf

Akhlak tasawuf merupakan solusi tepat dalam mengatasi krisis-krisis akibat modernisasi untuk melepaskan dahaga dan memperoleh kesegaran dalam mencari Tuhan. Intisari ajaran tasawuf adalah bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga seseorang merasa dengan kesadarannya iu brrada di hadirat-Nya. Tasawuf perlu dikembangkan dan disosialisasikan kepada masyarakat dengan beberapa tujuan, antara lain: Pertama, untuk menyelamatkan kemanusiaan dari kebingungan dan kegelisahan yang mereka rasakan sebagai akibat kurangnya nilai-nilai spiritual. Kedua, memahami tentang aspek asoteris islam, baik terhadap masyarakat Muslim maupun non Muslim. Ketiga, menegaskan kembali bahwa aspek asoteris islam (tasawuf) adalah jantung ajaran islam. Tarikat atau jalan rohani (path of soul) merupakan dimensi kedalaman dan kerahasiaan dalam islam sebagaimana syariat bersumber dari Al-Quran dan Al- Sunnah. Betapapun ia tetap menjadi sumber kehidupan yang paling dalam, yang mengatur seluruh organisme keagamaan dalam

islam. [6] Ajaran dalam tasawuf memberikan solusi bagi kita untuk menghadapi krisis-krisis dunia. Seperti ajaran tawakkal pada Tuhan, menyebabkan manusia memiliki pegangan yang kokoh, karena ia telah mewakilkan atau menggadaikan dirinya sepenuhnya pada Tuhan. Selanjutnya sikap frustasi dapat diatasi dengan sikap ridla. Yaitu selalu pasrah dan menerima terhadap segala keputusan Tuhan. Sikap materialistik dan hedonistik dapat diatasi dengan menerapkan konsep zuhud. Demikan pula ajaran uzlah yang terdapat dalam tasawuf. Yaitu mengasingkan diri dari terperangkap oleh tipu daya keduniaan. Ajaran-ajaran yang ada dalam tasawuf perlu disuntikkan ke dalam seluruh konsep kehidupan. Ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial, politik, kebudayaan dan lain sebagainya perlu dilandasi ajaran akhlak tasawuf.



[1] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), hlm 636.

[2] Deliar Noer, Pembangunan di Indonesia, (Jakarta: Mutiara, 1987), hlm 24.

[3] Abudin Nata, Akhlaq Tasawuf, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1997), hlm 286.

[4]Agussyafii.blogspot.com/2007/12/problem-dan-solusi-masyarakat-modern.html

[5]Sayyed Hossein Nashr, Man and Nature…….. 57.

[6]Sayyed Hossein Nashr, ideals and realities of islam ….. hlm 121.

read more “PROBLEMATIKA MASYARAKAT MODEREN”

Saturday, June 6, 2009

Antara Cinta dan Dusta

Seberapa validkah kita mampu mengukur antara kesetiaan cinta dan logika dusta? Dalam bahasa yang lebih sederhana, bisakah kita mencintai seseorang sekaligus medustainya dalam waktu yang bersamaan?

Pertanyaan ini mungkin terkesan apologetik dan paradoks. Apologetik, karena dalam konteks tertentu, kita seringkali terlena pada pembelaan diri yang berlebihan ketika konflik internal dalam hati menuai selaksa kepedihan. Paradoks, karena term cinta yang katanya sakral itu terjerembab pada hingar-bingar dominasi rasa yang sebenarnya hanyalah letupan-letupan ketakberdayaan membawa diri saja.

Tapi toh kita seringkali memaknai cinta dan rasa dengan logika kita sendiri, dengan defenisi dan terminologi kita sendiri. Maka paradoks cinta itu kian kentara, dan cenderung ambivalens. Bahkan, cinta sering dijadikan kambing hitam untuk mencari stigma-stigma pembenarannya.

“Tapi itu bukan cinta!” Begitu mungkin kilah para pujangga. Itu hanya nafsu yang dibiaskan dengan gelora cinta! Ya, ya.... kita bebas mendefinisikan cinta semau kita, sesuka kita. Terserah para ahli mengartikan cinta menurut versinya masing-masing. Ada cinta buta, cinta mati, cinta palsu, dan cinta-cinta yang lain. Mau ada dusta yang terselubung dalam cinta, mau ada benci yang dicaci dalam hati, mau ada bahagia yang dieja dalam suka, silahkan!

Hanya satu yang barangkali perlu disadari, bahwa memiliki dan kehilangan adalah dua sisi kehidupan. Silahkan pilih yang kita sukai, silahkan genggam yang kita miliki, toh saatnya nanti kita akan kehilangannya....
oleh : baha 
read more “Antara Cinta dan Dusta”